Thursday, 27 September 2012
Sikap Benar Terhadap Urusan Allah
Barangsiapa memutuskan diri untuk tidak mengurus dirinya dan melimpahkan urusannya pada Allah; memutuskan pilihannyahanya pada pilihan Allah; memutuskan pandangannya hanya memandang Allah; memutuskan kebaikannya hanya pada ilmu Allah disebabkan oleh disiplin kepatuhan dan ridhanya; kepasrahan total dan tawakalnya pada Allah;
maka Allah benar-benar menganugerahkan kebaikan nurani hati, yang juga disertai dengan dzikir, tafakkur dan hal-hal lain yang sangat istimewa.
(Syeikh Abul Hasan berkata pada salah satu muridnya): Aku melihatmu senantiasa mengekang nafsumu dan menarik perkaramu dalam memerangi nafsumu itu. Engkau wahai Luka’ bin Luka’, maksudku dengan itu menyatakan dua nafsu, terhadap leluhur dan pada anak-anak. Engkau ditindih oleh ikut mengatur urusan (yang bukan urusanmu), hingga sampai pada suapan yang engkau makan dan minuman yang engkau teguk, juga dalam ucapan yang engkau katakan atau engkau diamkan. Lalu dimana posisimu di hadapan Yang Maha Mengatur, Maha Tahu dan Maha Mendengar lagi Melihat; Maha Bijaksana lagi Maha Waspada, Yang Maha Agung Keagungan-Nya dan Maha Suci Asma’-asma’-Nya? Bagaimana bisa Dia disertai oleh yang lain-Nya? Karena itu bila engkau menghendaki sesuatu yang akan engkau lakukan atau engkau tinggalkan, maka berlarilah kepada Allah menghindari semua itu, maka Allah pun akan menyingkirkanmu dari neraka. Jangan mengecualikan sedikitpun. Tunduklah kepada Allah, kembalikan dirimu kepada Allah. Sebab Tuhanmu mencipta apa yang dikehendaki-Nya dan memilihkan.
Hal demikian tidak akan kokoh kecuali pada orang yang benar atau seorang wali. Orang yang benar adalah orang yang mengikuti aturan hukum. Sedangkan wali orang yang tidak mempunyai aturan hukum. Orang yang benar bersama hukum Allah, sedangkan wali, fana’ dari segala sesuatu bersama Allah.
Sementara para Ulama ikut mengatur dan memilih, menganalisa dan mengiaskan. Mereka dengan segenap akal dan sifatnya senantiasa demikian. Sedangkan para syuhada’ terus menerus mengendalikan dan berjuang, mereka berperang, membunuh dan dibunuh, dan mereka hidup dan ada pula yang mati. Mereka dihadapan Allah tetap hidup walaupun secara indera dan fisik tidak ada.
Adapun orang-orang shaleh, jasad mereka disucikan sedangkan rahasia batin mereka menggigil dan tegang. Tidak relevan untuk menjelaskan kondisi ruhani mereka kecuali bagi orang yang benar pada awal langkahnya atau bagi wali pada akhir tahapnya. Engkau cukup melihat apa yang tampak pada lahirnya berupa kebajikan-kebajikan mereka, dan jangan berupaya menjelaskan kondisi batin mereka. Kalau engkau inginkan suatu perkara yang hendak engkau lakukan atau engkau tinggalkan, kembalilah kepada Allah, seperti yang kukatakan kepadamu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan kembalikan dirimu pada-Nya. Ucapkanlah:
“Wahai Yang Awal, wahai Yang Akhir, wahai Yang Akhir, aku memohon demi kebenaran namaku pada Asma-Mu, dan sifatku pada Sifat-Mu, dan urusanku pada Urusan-Mu, pilihanku pada Pilihan-Mu, jadikanlah bagiku sebagaimana engkau berikan kepada wali-wali-Mu (Dan masukkan diriku)dalam berbagai hal (pada jalan masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku tempat keluar yang benar, dan berikanlah padaku, dari sisi-Mu, kekuasaan yang menolong). Takutlah dirimu untuk bersangka buruk kepada Allah: “Bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
Aku pernah melihat, seakan-akan diriku duduk dengan salah seorang muridku di hadapan guruku —semoga Allah merahmatinya—, lalu guruku berkata, “Jagalah empat hal dariku. Tiga untukmu dan yang satu untuk orang yang kasihan ini:
Janganlah engkau berusaha memilih persoalanmu sedikitpun, pilihlah untuk tidak memilih.
Berlarilah dari semua upaya memilih itu. Penghindaran pilihanmu pada segala sesuatu, semata untuk menuju kepada Allah. “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih apa yang terbaik bagi mereka.”
Setiap pilihan-pilihan syariat dan tata aturannnya, maka itulah pilihan Allah, engkau tidak memiliki kompetensi di dalamnya, dan engkau harus patuh pada-Nya, simak dan taatlah. Itulah posisi Pemahaman Ilahi (fiqhul-Ilahy) dan Ilmu Ilhami (ilmul-ilhamy). Itulah bumi ilmu hakikat yang diambil dari Allah bagi orang yang bertindak lurus. Fahami dan baca, serta berdoalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau berada dalam petunjuk yang lurus. Namun apabila mereka membantahmu, katakanlah, Allah Maha Tahu atas apa yang kalian semua ketahui.
Engkau harus tetap zuhud di dunia dan bertawakal kepada Allah. Sebab zuhud itu merupakan fondasi amal, dan tawakal merupakan modal dalam berbagai tingkah laku ruhani. Bersaksilah kepada Allah dan berpegang teguhlah dalam ucapan-ucapan, tindakan-tindakan, akhlak, dan tingkah laku ruhani. “Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka benar-benar ia diberi petunjuk ke jalan lurus.”
Takutlah untuk bersikap ragu, syirik, tamak, dan berpaling dari Allah demi sesuatu. Sembahlah Allah atas dasar agungnya kedekatan, engkau akan mendapatkan kecintaan dan keistimewaan pilihan, kekhususan dan kewalian dari Allah. “Allah adalah Wali bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Sedangkan —untuk lelaki yang perlu dikasihani ini— faktor yang menyebabkan putusnya hubungan ketaatan dengan Allah, dan hatinya yang terhijabi dari bukti-bukti ketauhidan, ada dua perkara:
Pertama ia masuk dalam pekerjaan dunianya dengan cara ikut campur mengaturnya. Kedua dalam amal akhiratnya dipenuhi keraguan atas anugerah-anugerah Ilahi Sang Kekasih. Sehingga Allah menyiksanya lewat hijab, dan terus menerus dalam keraguan, serta melalaikannya akan hisab kelak, lalu ia terjerumus dalam lautan tadbir dan takdir (ikut campur aturan dan takdir Allah). Lalu ia mendekati dengan kewaspadaan yang kotor. Apakah kalian semua tidak bertobat kepada Allah dan mohon ampunan kepada-Nya, sedangkan Alllah itu Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Karena itu kembalilah pada Allah berkaitan dengan prinsip-prinsip pengaturan dan takdir, engkau akan mendapatkan limpahan kemudahan, antara dirimu dengan kesulitan yang ada akan terhapuskan. Setiap ke-wira’i-an yang tidak membuahkan ilmu dan nur, maka ke-wira’i-an itu sama sekali tak berpahala. Sedangkan setiap kemaksiatan yang diikuti oleh rasa takut dan berlari kepada Allah, janganlah engkau anggap sebagai dosa.
Ambilah rizkimu menurut pilihan Allah bagimu dengan mengamalkan ilmu dan mengikuti sunnah Nabi Saw.
Engkau jangan naik ke tahap berikutnya sebelum Allah menaikkan dirimu, sebab dengan tindakanmu itu telapak kakimu bisa tergelincir.
Suatu ketika aku berhasrat pada sedikit saja dari dunia, tidak banyak, lantas aku mengurungkan dan mengkhawatirkan jika hal itu termasuk adab yang buruk (su’ul adab). Aku bergegas kepada Tuhanku, dan ketika tidur aku bermimpi, seakan-akan Nabi Sulaiman as. sedang duduk di atas tempat tidur, sementara di sekelilingnya banyak pasukan. Beliau menyodorkan periuk dan piringnya. Aku melihat suatu hal yang telah disifatkan Allah dalam firman-Nya: “dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungkunya).” (Q.s. Saba’: 13). Lalu tiba-tiba ada yang memanggilku, “Janganlah engkau memilih sedikitpun disisi Allah, namun jika engkau memilih sebagai ubudiyah semata bagi Allah dalam rangka mengikuti Rasulullah Saw. ketika bersabda: “Sebagai hamba yang bersyukur” yakni sebagai Rasul. Kalau toh pun harus memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Dan larikanlah pilihanmu itu pada pilihan Allah.”
Aku terbangun dari tidurku, lalu kulihat ada yang berkata padaku, “Sesungguhnya Allah telah memilihkanmu untuk berdoa:
“Ya Allah luaskanlah rizki padaku dari duniaku, dan janganlah engkau jadikan hijab dengannya (rizki dunia) itu terhadap akhiratku. Jadikanlah tempatku di sisi-Mu selamanya dihadapan-Mu, senantiasa memandang dari-Mu kepada-Mu. Tampakkanlah Wajah-Mu dan tampakkanlah padaku dari penglihatan dan dari segala sesuatu selain-Mu. Hapuskanlah penghalang antara diriku dengan Diri-Mu. Wahai Dzat, yang Dia adalah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Dzahir, Maha Batin, dan Dia adalah Maha Tahu atas segala sesuatu.”
Manusia paling celaka adalah manusia yang menghalangai diri pada Tuhannya, dan mengambil alih urusan duniawinya, sementara ia alpa akan prinsip dan tujuan, serta amal akhiratnya.
sufinews
Monday, 30 April 2012
Bila Allah Mencintai Hamba
sufinews
Saturday, 28 April 2012
Nafsu Nyata Nafsu Tersembunyi
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengobati yang tersembunyi itu sangat sulit terapinya.”
Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan tindak maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap di balik aktivitas taat, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi.Alur nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:
Takut pada sesama makhluk,
Ambisi rizki,
Rela pada kemauan nafsu itu sendiri.
Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.
Sedangkan perselingkuhan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul rekayasa untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.
Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan aktivitas kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut berperan? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki matahatilah yang mengenal karakter itu.
Karena itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik aktivitas ibadah dan gerakan massa keagamaan, bahkan nafsu merangsek ornamen penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.
Disnilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”
Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih tersisa di hatimu.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra, menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar dipandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas, adalah Allah jika anda diampuni (lalu meninggalkan) kedua faktor di atas.”
Ketika seseorang berlaku riya’, dalam kondisi khalwat, secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiat, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.
Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”
Karena, menurut Syeikh Zarruq, ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.
Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”
Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya. Karena orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dijabdi.”
Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang pamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal kondisi ruhaninya oleh orang lain, ia adalah pendusta.”
Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan keterkenalan (popularitas).”
Dan menghapus riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selain DiriNya.
sufinews
Tuesday, 2 March 2010
Hal-hal yang Luar Biasa
Ada ha-hal luar biasa yang biasanya muncul pada para Sufi yang kelak disebut sebagai karomah. Tentu hal yang luar biasa
itu tidak akan pernah muncul selama manusia tidak pernah menundukkan dirinya sendiri, dan karenanya hal-hal biasa juga tak pernah tertundukkan.
Hal yang luar biasa itu justru terletak pada keberanian seseorang untuk mengeluarkan dirinya dari dirinya, sebagaimana pandangan para Sufi, “Hakikatmu adalah keluarmu dari dirimu.” Maksudnya kita bisa mengeluarkan hasrat nafsu kita dari diri kita.
Hikmah Ibnu Athaillah ini menyembunyikan rahasia, bahwa hakikat Karomah itu justru pada Istiqomah, dimana istiqomah tersebut tidak bisa diraih sepanjang manusia masih senang dan terkukung oleh kesenangan dan kebiasaan nafsunya.
Karena nafsu adalah hijab, dan wujud nafsu itu adalah rasa “aku” dalam diri kita sendiri.
Seorang Sufi ditanya, “Bagaimana anda sampai mencapai tahap luhur ini?”
“Aku bertauhid dengan tauhid paling utama, dan aku berbakti sebagaimana baktinya budak, serta aku taat kepada Allah swt atas perintahNya, apa yang dilarangNya. Maka setiap aku memohon, Dia selalu memberinya.”
Dalam suatu Isyarat, Allah swt, berfirman: “HambaKu, Akulah yang berkata pada sesuatu Kun Fayakuun”. Maka taatlah kepadaKu, maka engkau pun berkata pada sesuatu “Jadilah! Maka bakal terjadi!”.
Dalam hadits shahih, Allah swt berfirman, “Tak ada orang yang mendekat kepadaKu sebagaimana dekatnya orang yang menunaikan apa yang Aku fardhukan kepada mereka, dan senantiasa hambaKu berdekat padaKu dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku sebagai Pendengaran baginya, menjadi Mata, Tangan dan Penguat
baginya. Maka bila ia meminta padaKu, Aku pasti memberinya, dan bila ia meminta perlindungan padaKu, Aku pasti melindunginya….”
Menembus batas kebiasaan diri seorang hamba, berarti haruslah punya keberanian untuk menyadari kefanaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, doktrin, “Aku bisa, aku mampu, aku hebat, aku kuat, aku berdaya…dsb…” Apalagi disertai dengan kata-kata, “Dariku, denganku, untukku, demiku, bagiku, bersandar aku…dsb,” justru semakin mempertebal lapisan hijab demi hijab antara hamba dengan Allah swt.
Orang yang meraih karomah, pasti sirna dari keakuannya. Orang yang mendapatkan hal-hal luar biasa, justru fana’ seluruh egonya. Dan sebaliknya jika kesirnaan aku dan egonya tidak terjadi, maka hal-hal yang luar biasa tidak lebih dari Istidroj yang melemparkan dirinya dari Allah Ta’ala.
Al-hikam
Diantara Jalan Sufi Gusdur
Kharisma Gus Dur, setelah wafatnya, ternyata melebihi realitas kehidupannya. Keharuman spiritual yang eksotis, begitu lekat dan fenomenal. Hal ini tentu berhubungan dengan kondisi sosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar maqom spiritual seseorang diukur dengan kharisma dan keanehan yang luar biasa (khariqul ‘adat) berupa karomah-karomah, walau pun dalam perspektif Sufisme standar tersebut tidak baku.
Dalam khazanah tasawuf, tradisi kewalian seseorang sangat ketat dengan aturan-aturan gnostik (ma’rifatullah) yang teraksentuasi dalam sikap ubudiyah. Ada dua model kewalian dalam sosiologi Tasawuf, di satu sisi seorang wali ada yang sangat popular dengan hal-hal luar biasa di luar jangkauan nalar, ada pula yang sangat tersembunyi, bahkan kehebatan karomahnya tidak dikenal oleh public sama sekali.
Namun, Gus Dur memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog cosmopolitan yang actual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi.
Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh massanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang controversial, dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.
Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.
Pengaruh dari nuansa yang diyakini itu, Gus Dur justru mampu melakukan terobosan yang luar biasa, begitu cepat. Dalam 20 tahun gerakan Gusdurian, masyarakat NU yang jumlahnya begitu besar terbuka lebar dalam dialog kemodernan, seperti sebuah gerakan konser musik yang dinamik. Maka liberalitas tradisionalnya muncul dengan kuantum melebihi zamannya. NU menjadi organisasi masyarakat muslim modern yang mengejutkan, yang disebut oleh Nakamura sebagai organisasi Islam paling demokratis di dunia.
Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.
Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy, maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.
Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?
Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.
Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”
Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sacral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri.
Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan.
sumber : sufinews
Tuesday, 9 February 2010
Yang Penting Justru Adab
Dalam ajaran thariqat Sufi, adal“Yang terpenting bukannya tercapainya apa yang engkau cari, tetapi yang penting adalah engkau dilimpahi rizki adab yang baik”ah terwujudnya apa yang diinginkan (sukses), tetapi lebih penting dari itu semua kita dikaruniai adab yang bagus. Baik adab dengan Allah, adab dengan Rasulullah saw, adab dengan para Syeikh, para Ulama, adab dengan sahabat, keluarga, anak dan isteri, dan adan dengan sesama makhluk Allah Ta’ala.
Apa yang ada di sisi Allah swt, tidak bisa diraih dengan berbagai upaya sebab akibat, namun kita harus mewujudkan adab yang baik di hadapanNya, karena dengan adab itulah ubudiyah akan terwujud. Allah swt, berfirman: “Agar Allah menguji mereka, manakah diantara mereka yang terbaik amalnya.” (Al-Kahfi: 7), Allah tidak menyebutkan bahwa yang terbaik itu adalah yang terbanyak suksesnya, juga bukan yang terbaik adalah raihan besarnya.
Rasulullah saw, bersabda: “Taqwalah kepada Allah dimana pun engkau berada, dan ikutilah keburukan itu dengan kebajikan, sehingga keburukan terhapus. Dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (Hr. Imam Ahmad, dan At-Tirmidzy).
Seluruh proses adab itu adalah menuju keserasian dengan sifat-sifatNya, dan inilah yang disebutkan selanjutnya oleh Ibnu Athaillah:
“Tak ada yang lebih penting untuk anda cari disbanding rasa terdesak, dan tidak ada yang lebih mempercepat anugerah padamu ketimbang rasa hina dan rasa faqir padaNya.”
Sikap terdesak, hina, fakir, itulah yang membuat anda terus kembali kepada Allah swt tanpa sedikit pun faktor yang menyebabkan rasa tersebut muncul. Dan sebaik-baik waktu tentu saja, – sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Atyhaillah dalam Al-Hikam pula – adalah waktu dimana anda menyaksikan sifat butuh anda kepada Allah, dan dikembalikan pada wujud hinamu di hadapanNya.
Para sufi sering bersyair:
Adab sang hamba adalah rasa hinanya
Sang hamba tak pernah meninggalkan adab
Sang hamba jika sempurna rasa hinanya
Sang hamba meraih cinta dan kedekatannya.
Hajat manusia bertingkat-tingkat; Ada hajat dunianya, ada hajat akhiratnya, ada hajat meraih anugerahNya, ada hajat hanya kepada Allah swt, saja.
Tentu hajat tertinggi adalah menuju dan wushul kepada Allah Ta’ala, dan itu semua harus diraih dengan rasa butuh yang sangat, rasa hina dan fakir. Kepada Allah ta’ala.
Pernah dikatakan kepada Abu Yazid, “Pekerjaanmu senantiasa dipenuhi dengan rasa bakti, bila engkau menghendakiKu maka engkau harus datang dengan rasa hina dan butuh.”
Diantara makna berguna dari rasa butuh itu adalah:
1) Rasa berpaling dari makhluk Allah Ta’ala secara total,
2) Menghadap Allah dengan total pula,
3) Sang hamba berhenti di batasNya tanpa membuat pengakuan sedikit pun.
Tiga hal yang merupakan jumlah kebajikan dan kesempurnaan.
Kitab al-Hikam
Saturday, 19 December 2009
Hal-hal yang Luar Biasa
Ada ha-hal luar biasa yang biasanya muncul pada para Sufi yang kelak disebut sebagai karomah. Tentu hal yang luar biasa
itu tidak akan pernah muncul selama manusia tidak pernah menundukkan dirinya sendiri, dan karenanya hal-hal biasa juga tak pernah tertundukkan.
Hal yang luar biasa itu justru terletak pada keberanian seseorang untuk mengeluarkan dirinya dari dirinya, sebagaimana pandangan para Sufi, “Hakikatmu adalah keluarmu dari dirimu.” Maksudnya kita bisa mengeluarkan hasrat nafsu kita dari diri kita.
Hikmah Ibnu Athaillah ini menyembunyikan rahasia, bahwa hakikat Karomah itu justru pada Istiqomah, dimana istiqomah tersebut tidak bisa diraih sepanjang manusia masih senang dan terkukung oleh kesenangan dan kebiasaan nafsunya.
Karena nafsu adalah hijab, dan wujud nafsu itu adalah rasa “aku” dalam diri kita sendiri.
Seorang Sufi ditanya, “Bagaimana anda sampai mencapai tahap luhur ini?”
“Aku bertauhid dengan tauhid paling utama, dan aku berbakti sebagaimana baktinya budak, serta aku taat kepada Allah swt atas perintahNya, apa yang dilarangNya. Maka setiap aku memohon, Dia selalu memberinya.”
Dalam suatu Isyarat, Allah swt, berfirman: “HambaKu, Akulah yang berkata pada sesuatu Kun Fayakuun”. Maka taatlah kepadaKu, maka engkau pun berkata pada sesuatu “Jadilah! Maka bakal terjadi!”.
Dalam hadits shahih, Allah swt berfirman, “Tak ada orang yang mendekat kepadaKu sebagaimana dekatnya orang yang menunaikan apa yang Aku fardhukan kepada mereka, dan senantiasa hambaKu berdekat padaKu dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku sebagai Pendengaran baginya, menjadi Mata, Tangan dan Penguat
baginya. Maka bila ia meminta padaKu, Aku pasti memberinya, dan bila ia meminta perlindungan padaKu, Aku pasti melindunginya….”
Menembus batas kebiasaan diri seorang hamba, berarti haruslah punya keberanian untuk menyadari kefanaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, doktrin, “Aku bisa, aku mampu, aku hebat, aku kuat, aku berdaya…dsb…” Apalagi disertai dengan kata-kata, “Dariku, denganku, untukku, demiku, bagiku, bersandar aku…dsb,” justru semakin mempertebal lapisan hijab demi hijab antara hamba dengan Allah swt.
Orang yang meraih karomah, pasti sirna dari keakuannya. Orang yang mendapatkan hal-hal luar biasa, justru fana’ seluruh egonya. Dan sebaliknya jika kesirnaan aku dan egonya tidak terjadi, maka hal-hal yang luar biasa tidak lebih dari Istidroj yang melemparkan dirinya dari Allah Ta’ala.
sufinews
Monday, 14 December 2009
Ihsan
Karena rahmat Allah itu sungguh dekat kepada orang-orang yang baik (muhsinîn) (Q.S. al-A’râf [7]: 56).
Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah sepenuhnya dan ia dalam keadaan ihsân ……… kepada Allahlah segala sesuatu akan kembali (31:21)
Ayat-ayat tentang keadaan ihsân ini begitu banyak, tetapi beberapa ayat yang telah dikutip sudah mencukupi sebagai bukti. Makna dari ihsân, sebagaimana Nabi saw. mendefinisikannya, adalah beribadah dengan penuh kerendahan hati dan kehadiran hati (khudhû’ dan khusyu’) seolah-olah kita sedang melihat Allah dan sadar bahwa Dia melihat kita.
Al-Jurjani (w. 816H), dalam Kitâb al-Ta`rîfât-nya mengatakan:
Al-Ihsân: kata benda verbal (mashdar) yang menunjuk pada apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dengan cara yang sebaik-baiknya. Dalam syariah, kata ini berarti beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu. Makna ini merupakan pencapaian sejati dari ibadah seorang hamba yang didasarkan pada penyaksian hakikat ketuhanan dengan cahaya penglihatan spiritual (al-tahaqquq bi al-`ubûdiyyah `alâ musyâhadati hadhrat al-rubûbiyyat bi nûr al-bashîrah). Yakni: penyaksian Allah sebagaimana Dia digambarkan dengan sifat-sifat-Nya dan melalui sifat-sifat-Nya itulah seseorang akan menyaksikan-Nya dengan keyakinan, bukan secara maknawi (fa huwa yarâhu yaqînan walâ yarâhu haqîqatan). Itulah sebabnya mengapa Nabi saw. mengatakan, “Seolah-olah kamu sedang melihatnya,” karena seseorang menyaksikan-Nya dari balik hijab sifat-sifat-Nya.3
Dalam kamus, kata ihsân dan kata bentukannya memiliki beberapa makna berikut:
Hasuna: “menjadi, tampak, menjadikan sempurna, indah, bagus”
Ihsânan: “(berbuat secara) sempurna”
Ahsana: “ia melakukan suatu kebaikan yang besar”
Ihsân: “kebaikan”
Husnâ: “hadiah” atau “balasan baik”
Hasan: “sempurna, indah, bagus”
Hisânun: “sesuatu yang indah sempurna”
“Menjadi indah” dalam makna yang pertama berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik, untuk memperelok diri secara batin dan lahir. Apabila digunakan sebagai kata sifat, maka kata ini berarti kebaikan sebagai suatu ciri atau sikap batin dan juga kesabaran atau ketenangan.
Mulai sekarang akan semakin jelaslah bahwa keadaan ihsân yang disebutkan di dalam Alquran itu merupakan suatu keadaan yang sangat tinggi, yang ditunjukkan oleh malaikat Jibril sebagai bagian hakiki dari agama, dan dia meletakkannya pada tingkatan yang sama dengan keadaan islam (ketundukkan) dan iman (kepercayaan). Agama terdiri dari tiga keadaan: islam, iman dan ihsan, yang masing-masing memiliki definisinya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya, mengapa di dalam Alquran hal ini disebutkan pada banyak sekali tempat, dan mengapa Nabi saw., ketika ditanya oleh Jibril mengenai ihsan, memberikan penekanan yang sama pentingnya dengan islam dan iman.
Karena sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang taqwa dan orang-orang yang baik (Q.S. al-Isrâ’ [16]: 128)
Adakah lagi balasan bagi kebaikan (ihsan) selain dari Kebaikan? (Q.S. al-Rahmân [55]: 60)
Dan Ia membalas mereka yang berbuat baik dengan apa yang lebih baik (53:31)
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat baik (ihsân), dan memberi kepada kerabat, dan Ia melarang perbuatan keji dan buruk dan berlaku zalim; Ia mengajari kalian agar kalian menjadi ingat. (Q.S. al-Isrâ’ [16]: 90)
Tidak, siapa saja yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah dan ia seorang yang muhsin (yang melakukan ihsân), ia mendapatkan balasannya di sisi Tuhannya, kepada mereka tidak ada rasa takut juga mereka tidak akan bersedih (Q.S. al-Baqarah [2]: 112).
Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah sepenuhnya dan ia dalam keadaan ihsân ……… kepada Allahlah segala sesuatu akan kembali (31:21)
Siapa lagi yang dapat lebih baik dalam agama daripada orang berserah diri kepada Allah sepenuh dirinya dan melakukan kebaikan dengan cara yang Allah sukai … (4:125)
Inilah makna dari keseluruhan ilmu tasawuf. Mereka yang menentangnya, silakan saja mengubah istilah ini apabila sesuai dengan keinginannya, karena istilah apa pun tidak akan mengubah sifat dasar atau hakikat fundamental dari sesuatu. Sebagaimana peribahasa mengatakan, “bunga ros dengan nama lain apa pun akan tetap harum baunya.”[]
Catatan:
1. Ibnu Qayyîm, Raudhat al-Muhibbîn wa Nuzhat al-Musytâqîn, (Beirut: Dar al-kutub al-‘ilmiyyah, 1983) h.406-409.
2. Pandangan al-Ghazâlî disebutkan di dalam The Reliance of the Traveller, h.12. Untuk Suyuti, lihat di bawah, Bab 4: Perkataan dan Tulisan Para Imam dan Ulama.
3. Al-Syarîf ‘Alî Ibn Muhammad al-Jurjani, Kitâb al-ta`rîfât (Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyyah, 1408/1988) h. 12
Sufi Road
Saturday, 3 October 2009
PEMAHAMAN TASAWUF PALSU DAN AJARAN SESAT
13 Golongan faham sesat beratas nama tasawuf
Kutipan dari kitab “Tuhfah Al-Raghibin Fi Bayan Haqiqatu Iman Al-Mu’minin” oleh ‘Alim Al-Fadhil Muhmammad Arshad
Perkataan tasawuf dan ahli sufi sering kita dengar di masyarakat, akan tetapi bagaimana mengenal ahli taswauf/sufi yang sebenarnya? Kita tidak tahu. Oleh sebab itu kita lihat banyak orang terjebak
dengan ajaran sesat yang berlindung dibalik nama tasawuf atau ahli sufi.Ajaran sesat yang berlindung dibalik nama tasawuf ini telah timbul sebelum Imam Al-Ghazali. Sejak agama Islam tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan bukan saja disekitar negara arab tapi mencakupi disekitar Roma dan Persia. berbagai budaya telah menyerap masuk kedalam Islam. Hasilnya juga faham yang berasal dari budaya lain telah menyerap masuk kedalam masyarakat Islam. Kesempatan inilah yang telah diambil oleh musuh Islam untuk merusak Islam dengan orang Islam sendiri.
Dalam kitab “Tuhfah Al-Raghibin Fi Bayan Haqiqatu Iman Al-Mu’minin” oleh ‘Alim Al-Fadhil Muhmammad Arshad telah menyatakan terdapat tiga belas golongan faham sesat yang berlindung dibalik nama sufi atau ahli tasawuf. Golongan ini layak digelar sebagai kafir atau fasiq. Kerana ajaran-ajaran mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang berpandukan Al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w. Golongan tersebut ialah:

1. Apabila seseorang itu telah sampai kepada martabat kasih kepada Allah, maka terlepas dari taklif syara’. Segala yang haram menjadi halal . Sholat fardu, puasa dan sebagainya adalah tidak harus bagi mereka untuk mengerjakannya .
2. Golongan mereka tidak perlu menutup aurat.
3. Apabila samapi ketahap yang paling tinggi sekali kasih kepada Allah segala dosa besar seperti zina, minum arak dan sebagainya boleh dilakukan dan tidak mendapat azab daripada Allah.
4. Segala ibadat zahir tidak perlu dilakukan dan mereka hanya perlu bertafakkur saja untuk beribadat.
5. Harus bagi mereka untuk bersetubuh dengan segala perempuan.
6. Segala harta didunia ini adalah milik anak Adam. Dan kita semua adalah dari keturunan anak Adam, jadi kita berhak segala harta yang berada di muka bumi ini.
Kedua: Auliyaiyyah, :
Apabila seseorang itu sampai kepada darjat wilayah, mereka bebas dari segala perintah dan larangan dan martabat wali lebih mulia dari martabat nabi.
Ketiga: Thamrakhiyyah.
Golongan ini antara lain, bahwa tidak lagi terikat dengan perintah dan larangan Allah. Golongan ini mengharuskan menyanyi dan segala alat musik. Mereka diharuskan untuk berzina dan sebagainya. Golongan ini diasaskan oleh Abdullah Thamrakhiyyah.
Keempat: Ibahiyyah, :
1. Kita tidak perlu melakukan kerja-kerja mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran kerana kita sendiri tidak mampu melakukan kerja-kerja tersebut apalagi untuk mengajak orang lain.
2. Golongan ini mengharuskan zina dan tidak berdosa.
Kelima: Haliyah.
2. Kata mereka bahwa “Sheikh kami berada dalam suatu hal”.
Iktiqad golongan ini hampir sama dengan iktiqad golongan Haliyah, cuma mereka menambah waktu pingsan ketika menyanyi, ketika itu seolah merasa didatangi oleh bidadari daripada syurga lalu kami jima’ dengan mereka dan setelah sadar kami mandi junub.
Ketujuh: Waqi’iyyah.
Iktiqad golongan ini ialah bahwa kita tidak perlu kenal Allah Taala. Ini karena kita ini lemah sebagai seorang hamba. Jadi kita tidak perlu mengenal Allah.
Golongan ini memakai pakaian-pakaian yang bagus dan melakukan pekerjaan fasiq. Antara kata mereka bahawa: Kami tidak dapat lari dari melakukan zina.
Kesembilan: Mutakasilah.
Golongan ini malas bekerja. Kerja mereka hanyalah meminta-minta atas nama zakat atau sedekah.
Kesepuluh: Ilhamiyyah.
Iktiqad golongan ini sama seperti al-Dahriyyah. Golongan ini malas belajar dan membaca Al-Quran. Dalam pandangan mereka, Al-Quran itu hanya merupakan hijab untuk mengenal Allah. Karana itu mereka hanya mempelajari syair-syair dan kata hikmah saja sebagai tarikat mereka.
Kesebelas: Hululiyyah.:
1. Bahawa setiap makhluk bersatu dengan Allah Taala.
2. Harus kita memandang kepada perempuan yang cantik dan boleh menari dan memeluknya. Kerana sifat cantik itu adalah sifat Allah yang dianugerahkan kepada kita semua.
3. Apabila seseorang itu hilang dari hawa nafsu dan ikhlas kepada Allah, maka gugurlah segala amal syariat. Segala ibadah seperti sembahyang, puasa, zakat dan sebagainya.
Iktiqad golongan ini berdasarkan kepada tafsir kalimah “La Ilaha IllaLlah” iaitu: Tidak wujud melainkan wujud Allah. Dan pandangan mereka bahwa tidak maujud melainkan dalam kandungan ujud segala makhluk. yaitu setiap makhluk terdapat wujud Allah. Allah dan makhluk adalah dari satu jenis dan sebangsa. Golongan ini juga beriktiqad bahwa tuhan memiliki ruang dan waktu.
Ketigabelas: Mujassimah. Iktiqad golongan ini ialah:
1. Allah mempunyai anggota seperti tangan, kaki, berdaging dan sebagainya.
2. Allah Taala itu berupa tetapi tidak tahu bagaimana rupanya.
3. Allah Taala bergerak naik atau turun. Dan tempat kediaman Allah Taala ialah diatas ‘Arash.
Tuesday, 4 August 2009
Pandanglah Alam dengan Mata Batin
Alam semesta ini tampak mempesona secara lahiriyahnya, sedangkan batin (dibaliknya) adalah pelajaran mulia. Nafsu hanya memandang pesona lahiriyahnya sedangkan hati memandang pada batin pelajaran mulia yang tersembunyi Syeikh Zarruq dalam syarah Hikam mengatakan, siapa yang memandang lahiriyahnya akan terpenjarakan, dan siapa yang memandang batinnya semesta akan mendapatkan petunjuk. Jika orang tenggelam pada alam semesta ia akan terlempar dariNya, dan jika merasa tenteram dengan dunia itu ia akan menentangNya. Apabila ia berpaling hati dari alam semesta maka ia akan dibukakan petunjuk di dalamnya. Orang yang cerdas akan lebih senang jika menghindari dunia dibanding menerima dunia, dan sangat hati-hati menerima dunia dibanding menghindarinya. Mereka, para Ulama Salaf - semoga Allah meridloi mereka -- manakala dunia menghadap mereka, mereka mengatakan, "Duh, semua dosa telah dicepatkan siksanya." Sebaliknya jika kefakiran menghadap mereka, maka mereka katakana, "Selamat datang syi'ar kaum sholihin…" Begitu pula Rasulullah SAW. yang telah maksum dari segala kesalahan dan kealpaan ketika dihadapkan pada tawaran kunci seluruh kekayaan di bumi, malah beliau menolaknya. Melainkan beliau memilih lapar sehari, makan sehari. Ketika putri tercintanya, Fathimah ra, memohon agar diberi seorang pembantu untuk menggiling gandum, karena sangat menderita dengan pekerjaan itu, malah beliau menunjukkan agar mengingat kepada Tuhannya ketika menjelang tidurnya, sembari bersabda beliau: "Maukah kamu saya beri petunjuk yang lebih baik dibanding seorang pembantu bagimu? Yaitu ketika kalian berdua ingin masuk ke tempat tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertakbirlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh empat kali, dan itu lebih baik dibanding seorang pembantu…." Semua itu demi upaya agar berlari dari hingar bingar duniawi, dan kembali kepada apa yang tersembunyi dibalik dunia ini. Bukankah dunia ini tak lebih dari kefanaan, kehancuran, tempat yang serba kurang dan tempat berjalan belaka? Namun seorang hamba diuji dirinya dengan kehidupan menempuh dunia ini, sekadar untuk memenuhi bekal kebutuhannya saja. Selebihnya, dunia hanyalah mimpi buruk belaka. Oleh sebab itu jika seseorang menuruti nafsunya, dunia pasti tampak mempesona. Sementara kalau menuruti hatinya, dunia hanyalah pelajaran berharga, karena yang tampak dihati adalah yang tersembunyi di balik semesta. Sebagian Sufi mengatakan, "Aku tinggalkan dunia ini karena begitu cepat sirnanya dunia, sedikit sekali kekayaannya, banyak sekali penderitaannya dan sangat hina sekali kawan-kawannya." Syeikh Abu Tholib al-Makky menegaskan, "Ini semua merupakan pertolongan Allah Ta'ala kepada orang yang dilimpahiNya dari para wali-waliNya yang sangat dekat kepadaNya. Siapa yang menyaksikan dunia pada awal sifatnya tidak akan meraih pelajaran di akhirnya. Siapa yang mengenal dunia dengan batin hakikatnya tidak akan terpengaruh oleh sifat lahiriyahnya. Siapa yang dibukanan dampak dunia tidak akan dipermainkan oleh hingar bingarnya. Nabi Isa as, bersabda, "Celaka wahai Ulama buruk, kalian seperti binatang set, fisiknya menjijikkan dan dalamnya berupa nanah." Allah memerintahkan kepada NabiNya SAW agar tidak memandang dunia: "Janganlah kamu menjulurkan pandangan matamu pada apa yang kami hiaskan pada dunia berupa pasangan-pasangan dari hangar binger dunia dimana Kami akan menguji mereka di dalamnya." (Thaha 131). Ayat tersebut menunjukkan bahwa dunia adalah ujian (fitnah), dan memandangnya sangat tercela, walau pun kategorinya tidak haram. | |||
Wednesday, 22 April 2009
Allah Tidak Pernah Menunda BalasanNya
"Maha Besar Allah manakala si hamba melakukan amal ibadah kontan, lalu Allah menunda balasannya" Allah senantiasa membalas amal hamba seketika, sama sekali tidak pernah menunda, walau pun kelak di akhirat masih diberi balasan lebih besar lagi. Adapun balasan seketika yang kita terima adalah bertambahnya dekat kita kepada Allah, bertambah baik hati kita, bertambah terpuji akhlak kita, bertambah sabar, tawakkal, ridlo, ikhlas, yaqin, ma'rifat dan mahabbah kita kepada Allah Ta'ala.' Dunia ini kotor, dan karena itu Allah ingin membalasnya dengan keagungan yang luhur yang kelak bisa kita rasakan ketika di akhirat yang merupakan wilayah yang agung. Balasan yang kita terima di dunia adalah balasan langsungnya berupa pencahayaan iman kita di sini, karena memang itulah yang kita butuhkan di dunia. Kenapa demikian? Menurut Syeikh Zarruq, karena ada tiga alasan utama : Kedua, seorang hamba sesungguhnya sangat faqir kepada Allah, membutuhkan hajat seketika dan hajat yang akan datang, lalu Allah memberikan yang dibutuhkan hambanya berupa pahala dan kebajikan kelak di akhirat. Ketiga, maksud Allah Ta'ala pada hamba-hambaNya yang ikhlas adalah menunggalkan DiriNya dalam hati hamba, kemudian Allah mempertegas apa yang harus dihadapi si hamba. Dan kalau toh pun balasannya dibalik ketaatan hamba berupa Taufiq, maka itu klebih dari cukup bagi si hamba. Karena itu Ibnu Athaillah as-Sakandary melanjutkan: "Cukuplah bahwa yang disebut balasan bagimu, adalah, bahwa Allah Ridlo padamu sebagai hamba yang taat kepadaNya." Sebab yang layak bagi kita semua tak lebih adalah serba kurang yang melekat pada diri kita, sifat kurang yang lazim dan niscaya. Sedangkan hasrat untuk meraih kesempurnaan diri kita tidak akan pernah bisa diraih kecuali berkat rahmat dan fadhalNya, sebagaimana dalam Al-Qur'an dijelaskan: "Kalau bukan karena fadlanya Allah padamu dan rahmatNya, kalian tidak akan pernah bisa bersih dari dosa." (an-Nuur 21) "Kalau bukan karena fadhal Allah dan rahmatNya, niscaya kalian mengikuti syetan, kecuali hanya sedikit (yang tidak mengikuti)." (an-Nisa, 23) "Tetapi sesungguhnya Allah menganugerahi kamu dengan memberikan hidayah bagi iman, manakala kamu jujur." (Al-Hujurat 17) Penjelasannya:
Bahkan beliau melanjutkan: Keindahan taat dan kemanisan mesra bersama Allah dalam munajat merupakan anugerah dan sekaligus balasan ngsung atas kepatuhaan kita kepadaNya, bahkan kebeningan jiwa yang memancarkan cahaya di ruang batin kita. Oleh sebab itu sebagian Sufi mengatakan, "Di dunia ini ada syura, siapa yang masuk syurga di dunia ini, ia tidak lagi rindu pada syurga di akhirat bahkan tidak pada sesuatu pun yang diinginkan, dan syurga itu adalah Taat kepada Allagh Azza wa-Jalla." Yang lain menegaskan, "Tak ada yang menyerupai nikmat syurga, kecuali dirasakan kalangan yang bergantrung hatinya kepada Allah di malam hari melalui lezatnya munajat." Dalam Al-Qur'an dijelakan: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka Yang Maha Rahman akan menjadikan bagi mereka rasa cinta yang dalam." (Maryam: 96). (SN) | |||
Thursday, 26 March 2009
Kiat Meringankan Beban Takdir
“Pedihnya bencana menjadi ringan, manakala anda mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala adalah yang memberi cobaan bagimu. Dzat Yang memnghadapkan takdir-takdir padamu adalah Dia yang mengembalikan padamu agar ada kebaikan ikhtiar darimu.” Allah Ta’ala Maha Indah sifatNya, Mulia tindakanNya, sama sekali tidak bertujuan mencederai hambaNya, kecuali demi kemashlahatan si hamba itu sendiri, untuk meraih anugerah dan keutamaan dariNya. Bukan untuk menyiksa mereka. Allah Ta’ala telah berfirman kepada NabiNya, “Bersabarlah pada hukum Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu ada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thuur 48), sebagaimana Allah Ta’ala mengambalikan padamu apa yang engkau suka, maka bersabarlah terhadap apa yang ditakdirkan padamu. Mayoritas orang merasa pedih dengan takdir yang menderanya, semata karena belum faham, bahwa semua itu adalah caraNya menguji mereka. Ujian itu dari Allah jua. Ujian tentu demi peningkatan derajat, dan sekaligus kesiapan ikhtiar yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga anugerah dan keutamaan dari Allah Ta’ala diterima dengan jiwa yang benar. Inilah perlunya ridlo, sabar dan pasrah jiwa kepadaNya dalam situai dan kondisi apa pun. Imam Al-Junayd al-Baghdady pernah mengisahkan: “Pada suatu malam aku tidur di dekat Sary as-Saqathy ra (paman dan sekaligus gurunya), lalu sary membangunkan aku. “Hai Junaid, aku sepertinya sedang berada di hadapan Allah, dan Allah berfirman padaku, “Hai Sary, aku telah menciptakan makhluk dan semua makhluk itu mengaku telah mencintaiKu. Lantas Aku ciptakan dunia, tiba-tiba 90% dari semua itu lari dariKu dan tersisa 10% saja, Kemudian aku ciptakan syurga, ternyata (yang 10%) itu pun lari dariKu (menuju syurga), hingga tersisa 1% saja. Lantas pada yang tersisa itu Aku berikan sedikit saja cobaan, rupanya mereka pun lari dariKu, tinggal 0,99%. Aku katakan kepada yang tersisa yang masih bersamaKu itu: “Dunia bukan kalian kehendaki. Syurga juga bukan yang kalian inginkan. Neraka juga bukan membuatmu lari. Lalu apa mau kalian ini?” “Engkau Maha Tahu apa yang kami mau…” kata mereka. “Bila Aku memberikan cobaan sejumlah nafas kalian yang tidak bisa dipikul oleh bukit-bukit dan lembah jurang, apakah kalian bersabar?” tanyaKu. “Bila Engkau adalah Yang Memberikan cobaan, lakukanlah sekehendakMu….” Kata mereka yang tersisa. “Sungguh mereka kitu adalah benar-benar hamba-hambaKu …” Karena itu Ibnu Thaillah as-Sakandary melanjutkan: “Siapa yang menyangka lepasnya KeMaha LembutanNya dari takdirNya (yang keras), sesungguhnya karena sangkaan itu muncul dari piciknya pandangan.” Seringkali ketika cobaan tiba, orang mengeluhkan, “Wah, Allah tidak sayang lagi padaku…Allah tidak lagi berlemah lembut kepadaku…mungkin karena dosaku, sehingga siksaNya menimpaku, hingga aku kehilangan Maha LembutNya…dsb…” Kalimat dan keluhan demikian karena melihat pada kerasnya dan wujudnya takdir. Padahal pedih dan keras itu hanya bungkus atas Kelembutan Ilahi, demi Cinta dan KasihNya pada sang hamba. Sebab, tanpa cekaman keras itu sang hamba tidak sadar, tidak bangkit kepadaNya dan tidak tergugah untuk terus bersamaNya. Di sinilah perlunya Husnudzon kepadaNya, karena justru dengan Husnudzon kepada Allah itu segela derita terbebaskan, segala kegembiraan tumpah padanya, dan segala kemerdekaan jiwa tumbuh berkembang bagai ranum bunga. Secara psikhologis, bagi yang mengalami cobaan terasa berat untuk memahami kelembutan Ilahi dibalik cobaan itu. Tidak jarang yang justru protes kepada Allah, protes pada kenyataan-kenyataan, protes pada diri sendiri. Inilah yang membuat mereka sulit untuk menghayati makna cobaan. Namun jika mereka bisa membuka pintu sabar dan gerbang ridlo, pemahaman akan KeMaha Lembutan Ilahi dibalik semua itu, pasti muncul, bahkan akan tumbuh rasa syukur dibalik semua itu. (SN) | |||
Tuesday, 10 March 2009
Konsistensi Wirid
Tidak ada yang meremehkan konsistensi wirid (ketaatan di setiap waktu) kecuali orang yang sangat bodoh, karena warid ( pahala wirid) itu akan di dapat di negeri akhirat, sedangkan taat atau wirid itu akan lenyap bersama lenyapnya dunia ini.
Sedangkan yang lebih utama untuk diprioritaskan adalah yang wujudnya tidak bisa diabaikan. Wirid adalah HakNya yang harus anda laksanakan. Sedangkan warid adalah sesuatu yang anda cari dariNya. Mana yang lebih utama antara sesuatu yang dituntut oleh Allah padamu, dibanding apa yang anda tuntut dari Allah?
Mayoritas ummat ini lebih banyak berburu pahala dan janjinya Allah swt. Dalam segala gerak gerik ibadahnya. Padahal yang lebih utama adalah ibadah dan kepatuhannya itu sendiri. Sebab kepatuhan dan ubudiyah yang dituntut oleh Allah swt, dan menjadi HakNya, itu lebih utama dibanding hak kita yang besok hanya akan bisa kita raih di akhirat.
Sebab kesempatan melaksanakan HakNya saat ini dibatasi oleh waktu dunia, dan akan habis ketika usia seseorang itu selesai. Karena itu semampang di dunia, ibadah, amal, wirid harus diperbanyak sebanyak-banyaknya. Soal pahala dan balasan di akhirat itu bukan urusan kita. Manusia tidak berhak mengurus dan menentukan pahalanya. Semua itu adalah haknya Allah swt. Yang telah dijanjikan kepada kita, karena merasa menginginkannya.
Ibnu Athaillah lalu menegaskan, mana lebih utama tuntutan anda apa tuntutan Allah?
Disinilah lalu berlaku pandangan:
1. Taat itu lebih utama dibanding pahalanya.
2. Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya.
3. Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya.
4. Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya.
5. Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya.
6. Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan.
7. Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya.
8. Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan.
9. Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati.
10. Wirid itu lebih utama ketimbang warid.
11. dan seterusnya.
Para sufi sering mengingatkan kita, “Carilah Istiqomah dan jangan anda menjadi pemburu karomah. Sebab nafsumu menginginkan karomah sedangkan Tuhanmu menuntutmu istiqomah. Jelas bahwa Hak Tuhanmu lebih baik dibanding hak nafsumu.”
Abu Syulaiman ad-Darany menegaskan, “Seandainya aku disuruh memilih antara sholat dua rekaat dan masuk syurga firdaus, sungguh aku memilih sholat dua rekaat. Karena dalam dua rekaat itu ada Hak Tuhanku, sedangkan dalam syurga firdaus hanya ada hak diriku.”
Saturday, 28 February 2009
Isyarat Bukanlah Tanda Ma’rifat
Bukanlah disebut orang yang ‘Arif (ma'rifatullah) yang sempurna dan hakiki adalah bukanlah orang yang apabila mendapatkan isyarat dalam hatinya tentang Asma dan sifatNya, lantas merasa telah bertemu Allah Swt, karena isyarat itu.
Berarti masih bukan tergolong orang yang 'Arifun, manakala masih:
1. Mengandalkan dan bergantung pada isyarat-isyarat hakikat,
2. Merasa sudah sampai kepadaNya, karena Isyarat Hakikat itu;
3. Adanya sebab akibat yang menjadi perantara (berupa isyarat) antara dirinya dengan Allah;
4. Berkutat dengan rahasia-rahasia Ilahi, dan lupa akan kelemahan dan kefanaan diri.
5. Masih ada ketakutan dan kegelisahan dibalik Isyarat yang diterima
6. Adanya isyarat menunjukkan adanya jarak jauh antara dia dan Dia.
7. Adanya keasyikan tersendiri dibalik isyarat-isyarat yang diterima.
Orang yang tergolong 'Arifun, adalah manakala:
8. Tidak lagi punya isyarat, karena telah fana' dalam Ilahi, lebur dari segala isyarat maupun peringatan.
9. Runtuhnya isyarat, karena karena menyaksikan KeparipurnaanNya. Bukan karena kekurangan dan keteledorannya dari interaksi dengan Jalal dan JamalNya.
10. Telah fana dalam WujudNya dari wujudnya sendiri
11. Telah fana dalam PenyaksianNya dari penyaksian dirinya sendiri.
12. Kemana pun menghadap hanya Wajah Allah yang tampak di mata hatinya.
13. Hanya Allah yang diharapkan, bukan limpahan manifestasi sifat-sifatNya, baik limpahan nikmat maupun penampakan kekuarangan atau dosanya.
14. Tidak ada lagi ketakutan dan kegelisahan. (SN)
Saturday, 21 February 2009
Mulia, Kuat dan Kaya
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany -Pagi hari di Madrasahnya, tanggal 19 Rajab 545 H.
Dari Nabi saw : beliau bersabda:
"Siapa yang senang menjadi manusia paling mulia, hendaknya bertaqwa kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kuat, hendaknya bertawakkal kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kaya hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih dipercaya ketimbang apa yang ada di tangannya. (Hr. Al-Hakim di Al-Mustadrak).
Artinya siapa yang ingin kemuliaan dunia dan akhirat hendaknya bertaqwa kepada Allah Azza wa-Jalla:
"Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa." (Al-Hujurat: 13)
Kemuliaan ada pada ketaqwaan seseorang, sedangkan kehinaan ada dalam maksiatnya. Siapa yang ingin kuat dalam agama Allah Azza wa Jalla hendaknya ia bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, karena tawakal itu membenarkan hati, menguatkan, membersihkan, menunjukan dan menampakkan keajaiban Illahi. Karena itu jangan berserah diri pada uangmu, dinarmu, dan usahamu. Justru itu bisa melemahkan dirimu, karenanya tawakal-lah kepada Allah Azza wa Jalla, karena Allah Ta’ala menguatkanmu, menolongmu dan mengasihimu serta membukakanmu tanpa terduga disamping mengokohkan hatimu.
Jangan peduli dengan datangnya dunia atau perginya dunia dari sisimu. Jangan peduli pula dengan penerimaan (dukungan) atau penolakan makhluk padamu, maka pada saat itulah anda menjadi manusia terkuat.
Bila anda berpegang pada harta, jabatan, keluarga dan nusahamu, maka sama dengan anda menantang murka Allah azza wa Jalla, karena semua itu akan sirna. Disamping tipudaya dibalik semua itu, dimana Allah swt tidak senang ada yang lain selain Allah di hatimu.
Siapa yang ingin kaya dunia akhirat hendaknya betaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, bukan takut pada yang lain. Hendaknya ia bersimpuh di pintuNya, malu bersimpung di pintu selain pintuNya. Seharusnya ia pejamkan mata hatinya untuk memandang selain Dia Azza wa Jalla, namun bukan mata kepalanya.
Bagaimana anda percaya dengan apa yang ada di tangan anda, sedangkan semua itu akan sirna? Sementara anda malah tidak percaya pada apa yang di Tangan allah Azza wa Jalla yang tak pernah sirna? Semua ini karena kebodohan anda pada Allah Ta’ala, lalu beralih ke yang lainNya. Percayamu pada Allah membuatmu cukup, dan percayamu pada selainNya membuatmu fakir.
Wahai orang yang yang meninggalkan ketaqwaan, anda telah diharamkan mendapatkan kemuliaan dunia akhirat.
Wahai orang yang tawakal kepada makhluk dan usaha, anda telah terhalang dari kekuatan dan kemuliaan bersama Allah Azza wa-Jalla dunia akhirat.
Wahai orang yang percaya pada milik kuasanya, anda telah terhalang meraih kaya raya dunia akhirat bersama Allah Azza wa Jalla.
Anak-anak sekalian, jika anda menjadi orang yang bertaqwa, bertawakal dan percaya teguh pada Allah Azza wa Jalla hendaknya anda sabar. Karena sabar itu dasar setiap kebajikan. Bila niatmu benar dalam sabar, maka sabarmu hanya demi wajah Ilahi Azza wa Jalla, maka anda akan dapat balasan berupa cintaNya dalam hatimu, DekatNya padamu dunia akhirat.
Sabar itu berarti berserasi dengan ketentuan dan takdirNya yang telah mendahului pengetahuanmu, dimana tak seorang pun dari makhlukNya bisa menghapus takdir itu.
Hal demikian akan tertanam dalam diri mukmin yang yaqin. Maka sabar atas takdirNya itu memberi kemerdekaan, bukan keterdesakan.
Sabar di awalnya merupakan keterhimpitan, namun langkah berikutnya adalah kebebasan. Bagaimana anda mengaku beriman tetapi anda tidak bersabar? Bagaimana anda mengaku ma’rifat tetapi anda tidak ridlo? Iman dan ma’rifat bukan sekadar pengakuan.
Tidak bisa disebut beriman dan ma’rifat sampai anda memandang gerbangNya, membiarkan celaan dan sabar atas lingkar takdir dan pijakan manfaat dan derita, yang menginjak hatimu, bukan pikiran dan inderawimu, sementara anda tetap di tempat, seperti terbius, jasad tanpa ruh.
Perkara ini diperlukan ketenangan, tanpa gerakan, tersembunyi tanpa harus menghilang dari massa, dimana qalbu, sirr, batin, dan makna anda tidak ada di tengah mereka. Sungguh sudah banyak apa yang saya bicarakan, dan sungguh betapa sedikit yang kalian amalkan. Sudah panjang lebar saya uraikan tetapi anda tak pernah faham. Sudah banyak yang kuberikan, tetapi tidak pernah kalian ambil. Sudah banyak nasehatku tetapi anda tidak mengambil pelajaran.
Nilai Seorang Mursyid
Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi. (Imam Al-Ghazali)
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’I dikenal dengan nama Imam al Ghazali lahir tahun 450 H/1058 M di propinsi Khurasan Irak. Beliau mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah sehingga digelar sebagai hujjatul Islam. Diantara banyak karya tasawuf yang beliau karang yang sangat terkenal sampai sekarang adalah Ihya Ulumuddin (Kebangkitan ilmu-ilmu Agama).
Imam al Gahazali pada mulanya bukanlah pengamal tasawuf bahkan beliau tidak begitu mempercayai penomena-penomena kekeramatan yang di alami oleh orang-orang shaleh sampai Allah memberikan petunjuk kepada beliau sebagai mana yang beliau ceritakan berikut yang kami kutip dari buku Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf :
Pada awalnya aku adalah orang mengingkari kondisi spiritual orang-orang shaleh dan derajat-derajat yang dicapai oleh para ahli makrifat. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya aku bergaul dengan Mursyid-ku, Yusuf an Nasaj. Dia terus mendorongku untuk melakukan mujahadah, hingga akhirnya aku memperoleh karunia-karunia ilahiyah. Aku dapat melihat Allah dalam mimpi. Dia berkata kepadaku, “wahai Abu Hamid, tinggalkanlah segala kesibukanmu. Bergaullah dengan orang-orang yang telah Aku jadikan tempat untuk pandangan-Ku di bumi-Ku. Mereka adalah orang-orang yang menggadaikan dunia dan akhirat karena mencintai Aku.” Aku berkata, “Demi kemulyaan-Mu, aku tidak akan melakukannya kecuali Engkau membuatku dapat merasakan sejuknya berbaik sangka kepada mereka.” Allah berfirman, “Sungguh Aku telah melakukannya. Yang memutuskan hubungan antara engkau dan mereka adalah kesibukanmu mencintai dunia. Maka keluarlah dari kesibukanmu mencintai dunia dengan suka rela sebelum engkau keluar dari dunia dengan penuh kehinaan. Aku telah melimpahkan kepadamu cahaya-cahaya dari sisi-Ku Yang Maha Suci.” Aku bangun dengan penuh gembira. Lalu aku mendatangi Syekh-ku, Yusuf an Nasaj, dan menceritakan tentang mimpiku itu. Dia tersenyum sambil berkata, “Wahai Abu Hamid, itu hanyalah lembaran-lembaran yang pernah kami peroleh di fase awal perjalanan kami. Jika engkau tetap bergaul denganku, maka matahati mu akan semakin tajam.”
Pengalaman Imam Al Ghazali berjumpa dengan Allah dalam mimpi atas bimbingan Guru Mursyidnya menyebabkan beliau sangat yakin dengan ilmu tasawuf yang selama ini tidak menjadi perhatiannya. Pengalaman yang tidak pernah Beliau alami sebelumnya walaupun telah hapal Al Qur’an, ribuan hadist dan berbagai karya ulama-ulama besar. Dan dari keterangan Guru Mursyid beliau ternyata perjumpaa dengan Allah dalam mimpi yang dialami oleh Imam Al Ghazali itu hanyalah fase awal dari perjalanan rohani. Tentu saja pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami oleh Imam al Ghazali bisa juga dialami oleh orang lain asal memenuhi rukun dan syaratnya.
Imam al Ghazali berpendapat bahwa sangat penting bagi seseorang yang menempuh perjalan rohani mempunyai seorang Guru Mursyid yang membimbing agar tidak tersesat sebagaimana yang beliau kemukakan :
“Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia haru mempunyai seorang Mursyid dan pendidikan spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak yang tercela. Yang dimaksud pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan lurus. Dan sebelum Rasulullah SAW`wafat, Beliau telah menetapkan para Khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang Mursyid.”
Menurut Imam al Gahazali, pada umumnya manusia tidak bisa melihat penyakit-penyakit jiwa mereka sendiri kecuali orang-orang yang telah terbuka hijabnya dan telah tercerahkan lewat bimbingan Mursyid. Seseorang hanya dapat melihat korotan saudaranya tapi dia tidak bisa melihat kotorannya sendiri. Seorang Mursyid atas karunia Allah mengetahui penyakit-penyakit hati manusia. Oleh karenanya kata Imam Al Ghazali apabila menusia ingin mengetahui penyakit-penyakit jiwanya hendaknya dia duduk dihadapan Mursyid yang mengetahui penyakit-penyakit jiwa dan menyingkap aib-aib yang tersembunyi. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk Mursyidnya itu dalam melakukan mujahadah. Inilah sikap seorang murid terhadap mursyidnya atau sikap seorang pelajar terhadap gurunya. Dengan demikian, Mursyid atau gurunya akan dapat mengenalkannya tentang penyakit penyakit yang ada dalam jiwanya dan cara mengobatinya.
Zaman sekarang orang menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu yang tidak berhubungan dengan dirinya sendiri dan melupakan tentang ilmu mengenal diri. Tasawuf adalah ilmu untuk penyucian hati dan ilmu untuk mengenal diri agar bisa mengenal Tuhan. Tasawuf bukan sekedar ilmu yang dibaca dan dihapal lalu dipraktekkan menurut selera masing-masing. Tasawuf pada intinya adalah ilmu kerohanian yang membutuhkan seorang Master yang ahli untuk membimbing manusia kepada Tuhan. Dialah Mursyid yang bukan hanya mengatakan bahwa Allah itu Esa dengan segala sifat-sifat-Nya tapi juga bisa mengantarkan muridnya langsung bertemu dengan Allah sebagaimana pengalaman Imam Al Ghazali diantarkan kehadirat Allah oleh Guru Mursyidnya.
Saya selalu bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya yang tidak terhingga dengan diperkenalkan saya dengan salah seorang Auliya-Nya. Beliau lah yang membimbing saya kehadirat Allah SWT menemukan cahaya dalam kegelapan hati. Tanpa Mursyid, sungguh saya hanyalah seorang hamba baca yang merasa tahu tanpa bisa merasakan apa-apa.
Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim akan selalu mengekalkan kita dalam karunia-Nya bersama dengan kekasih-Nya di muka bumi, memberikan kesempatan untuk terus menyaksikan keindahan wajah-Nya, mengizinkan kita untuk terus mendengar firman-Nya yang Maha Menggetarkan. Semoga! (SM)
Monday, 16 February 2009
Derajat Arifin (III)
“Hai pemburu dunia, tinggalkan dunia, maka dunia memburumu!”, lanjutnya.
Abu Said al-Kharraz ra, mengatakan, “Suatu hari aku di tempat wuquf, lalu aku ingin memohon kepada Allah swt sesuatu kebutuhan. Lantas muncul bisikan lembut tanpa suara kepadaku.”Di hadapanmu Allah, kamu masih mencari selain Allah?”
Ada seseorang menulis surat kepada saudaranya, “Amma Ba’du: “Tamparlah muka para penghasrat dunia dengan dunianya, tamparlah pencari akhirat pada wajah pemburunya. Bermesralah dengan Robbul ‘alamin. Wassalam.”
Abu Abdullah an-Nasaj r.a. mengatakan, “Janganlah menumpuk banyak syurga bagi orang beriman, karena Allah akan memberikan kelayakan yang lebih banyak disbanding syurga, yaitu ma’rifat.”
Seseorang sholat jenazah dengan lima kali takbir. Ditanya kenapa sampai lima kali? “Empat takbiranku untuk si mayit. Dan satu untuk dua rumah (dunia-akhirat)…” katanya.
Kisah terjadi ketika ayat Al-Qur’an dibacakan pada Abu Yazid, “Diantara kalian ada yang berharap dunia, dan diantara kalian ada yang berharap akhirat…” Lalu Abu Yazid berkata, “Mana yang berharap kepada Tuhan?”
Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib kw, berkata kepada Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. : “Wahai Khalifah Rasulullah saw, bagaimana anda meraih posisi derajat ini hingga mendahului kami?”
Abu Bakr Shiddiq ara, menjawab, “Dengan lima perkara:”
Pertama : Aku dapatkan manusia dua kelompok; pemburu dunia dan pemburu akhirat, sedangkan aku pemburu Tuhan.
Kedua : Sejak aku masuk Islam, aku tak pernah kenyang dengan makanan dunia.
Ketiga : Aku tak pernah segar minum minuman dunia.
Keempat : Jika muncul di hadapanku dua pilihan amaliah: amal dunia dan amal akhirat, aku pasti memilih amal akhirat.
Kelima : Aku berguru (bersahabat) pada Nabi saw, dan aku senantiasa bersahabat yang sebaik-baiknya.
“Sungguh mulia bagimu wahai Abu Bakr…” kata Sayyidina Ali, kw.
Derajat Arifin (II)
Allah swt juga menyebutkan dalam Al-Qur’an, :
“Ketika Tuhannya berkata kepada Ibrahim, “Islamlah”! Ibrahim menjawab, “Aku Islam kepada Tuhannya Semesta Alam.”
Allah swt mengetahui kepasrahan totalnya (Islam) sampai kemudian ia dilempar dalam api.
Abu Abdullah bin Muqotil ra bermunajat:
“Ilahi, janganlah Engkau masukkan diriku ke dalam neraka, karena api pun bisa menjadi dingin padaku karena cintaku kepadaMu.”
Abu Ayyub As-Sikhtiyani ra berkata, “Neraka itu ditakui, bagi mereka yang lupa akan Tuhannya. Lalu dikatakan pada mereka yang lupa itu: “Rasakan semua atas kelalaianmu dalam pertemuan harimu ini…” dengan segenap balasan amalnya.”
Abu Hafsh ra menegaskan, “Saya sangat khawatir atas ma’rifat sebagian orang, yang sudah ditulis di jubah mereka, “Orang-orang merdekanya Allah setelah dikeluarkan dari neraka…” Namun mereka memohon agar tanda tulisan itu dihapus dari mereka. Jika aku jadi mereka, aku sangat memohon agar tanda itu ditulis di seluruh anggota badanku, dan membuatku cukup bangga: “Akulah dari golongan orang yang dimerdekakan dari neraka…!”
Menurutku, apa yang diraih ahli syurga dalam syurganya adalah Robb Ta’ala, kedekatan padaNya, dan memandangNya serta mendengarkan KalamNya.
Ingat isteri Firaun ketika bermunajat:
“Tuhanku, bangunkan rumah bagiku di sisiMu dalam syurga.”
Sebagaimana disebutkan, “Tetangga dulu, baru rumah.”
Ibrahim bin Adham ra, mengatakan, “Aku sangat malu jika tujuan utamaku adalah makhluk, padahal Allah swt telah berfirman kepada sebagian para NabiNya, “Siapa yang berkehendak pada Kami, ia tak ingin selain diri Kami…”
Sebagian Syeikh Sufi mengatakan, “Aku pernah melihat seorang pemuda di Masjidil Haram sedang dalam kondisi menderita dan kelaparan, saya sangat kasihan padanya. Aku punya seratus dinar dalam kantong, lalu kudekati dia. “Hai sayang, ini buat kebutuhan-kebutuhanmu…”
Pemuda itu tidak menoleh sama sekali padaku, dan aku terus mendesaknya. Pemuda itu berkata, “Hai Syeikh, dinar ini sesuatu yang tidak bias aku jual dengan syurga dan seisinya. Syurga itu negeri keagungan, asal sumber keteguhan dan keabadian. Bagaimana aku menjualnya dengan harga yang hina?”
Abu Musa ad-Daylaby, - pelayan Abu Yazid - semoga Allah merahmati keduanya, berkata, “Aku pernah mendengar seorang Syeikh di Bistham mengatakan, “Aku bermimpi, sepertinya Allah swt berfirman: “Kalian semua sedang mencari sesuatu dariKu – selain Abu Yazid – sesungguhnya dia mencariKu dan menghendakiKu, dan Aku pun menghendakiNya.”
Derajat Arifin (I)
Riwayat dari Irman bin Hashin, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda:
“Dari ummatku bakal masuk syurga tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” Mereka bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw, bersabda, “Mereka itu adalah orang yang tidak pernah melakukan ruqyah, tidak pernah meramal, tidak pernah berbekam, dan mereka senantiasa tawakkal kepada Allah.” (Hr. Muslim)
Rasulullah saw, memposisikan “ramalan” di urutan kedua, setelah berupaya untuk tidak berobat yang merupakan derajat murni sejati, yang tergolong ahli fana’, dan mereka senantiasa dalam Kehendak Allah swt.
Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Namun betapa sedikit jumlah mereka dalam setiap periode. Karena derajat mereka adalah mewujudkan hakikat tawakkal kepada Allah swt. Kepasrahan total yang meliputi seluruh instrument sebab akibat dan kehendak. Merekalah kaum ‘Arifin Billah yang sesungguhnya, semoga Allah meridloi mereka.
Amboi, jika orang ‘Alim itu terbagi dua:
1.) Satu golongan yang membuatku terbebas dari keraguan.
2.) Satu golongan yang menggunting-gunting diriku dari gunting neraka. Tak lebih dan tak kurang mereka itu, dimataku.
Anak-anak sekalian…Ketahuilah orang ‘arif kepada Allah swt dengan ma’rifat yang benar, senantiasa terhanguskan hasratnya di bawah keceriaan dalam WahdaniyahNya. Dan tak ada keceriaan mulai dari Arasy sampai muka bumi yang lebih besar ketibang kegembiraan ma’rifat kepada Allah swt.
Syurga seisinya itu dibanding sisi kegembiraan mereka kepada Allah swt, nilainya sangat kecil, lebih kecil dibanding atom, ketika mereka tahu bahwa ma’rifat adalah kegembiraan paling agung dari segala kegembiraan mana pun.
Siapa yang bertemu Allah swt, maka mana yang tak bisa ditemukan? Kesibukan apalagi yang akan dilakukan setelah bertemu denganNya? Bukankah melihat selain Allah itu tak lebih dari keliaran nafsu belaka? Hasrat yang rendah? Dan minimnya ma’rifat kepada Allah Ta’ala?
Adakah pakaian yang lebih baik dibanding baju Islam? Apakah ada mahkota yang lebih agung ketimbang mahkota ma’rifat? Atau adakah hamparan yang lebih mulia ketimbang hamparan taat?
Allah swt berfirman:
“Katakan, dengan karunia Allah dan dengan rahmatNya, maka dengan karunia dan rahmat itulah kalian semua bergembira…”
Dalam sebagian munajatnya Ibrahim bin Adham ra mengatakan:
“Illahi, Engkau Maha Tahu syurga dan seisinya, rasanya tak melintas padaku walau sesayap nyamuk setelah Engkau beri aku ma’rifat kepadaMu, dan kemesraanku kepadaMu, dan Engkau telah membuatkan mencurah untuk tafakkur atas keagunganMu, serta Engkau telah menjanjikan padaku untuk memandang WajahMu.”
Memang. Sesungguhnya derajat terendah kaum ‘arifin itu, manakala Allah memasukkannya ke dalam neraka yang diliputi adzab, maka hatinya malah tambah cinta kepadaNya, semakin mesra sukacita padaNya, dan semakin rindu kepadaNya.
Ibnu Sirin ra, berkata, “Jika aku harus memilih antara syurga dan sholat dua rakaat, aku memilih sholat dua rakaat. Karena dalam dua rakaat ada ridlonya Allah swt, taqarrub kepadaNya. Sedang dalam syurga yang ada kesenangan nafsu dan kesenangan manusia.”
Ketika Nabi Ibrahim as, dilemparkan ke dalam api, “Mereka mengatakan, bakarlah dia, dan mintalah pertolongan pada Tuhan kalian!” kata mereka.
Nabi Ibrahim as, menjawab, “Cukuplah bagiku Tuhanku dan Dialah sebaik-baik tenmpat berserah diri, sebaik-baik Tuhan dan sebaik-sebaik Penolong.”
Kemudian Allah swt, berfirman, “Wahai api jadilah dirimu dingin sejuk dan menyelamatkan atas Ibrahim.”
Berserah diri Diriwayatkan, ketika Allah swt berfirman kepada Nabi Ibrahim as, “Wahai Ibrahim, engkaulah sahabat dekatKu, dan Aku sahabat dekatmu.
Hari-hari Berkasih-Sayang
yang disebut dengan Hari Kasih Sayang, melainkan setiap harinya harus
dipenuhi rasa kasih sayang.
Kaum muslim semestinya merayakan kasih sayang itu sepanjang hidupnya,
sehingga hidup menjadi bahagia. Visi hidup kaum muslimin berbeda
dibandingkan dengan yang lain, karena tidak saja hanya belajar, bekerja,
menikah, berkeluarga, memiliki keturunan, pensiun, dan meninggal. Lebih
dari itu kaum muslimin juga harus menyiapkan kehidupan akheratnya, yaitu
kehidupan setelah kematian. Bukankah dalam doanya setiap hari adalah
keselamatan dunia dan akherat ("Fidunya Khasanah Wafil Akhirati
Khasanah..") dan kehidupan di dunia ini hakekatnya merupakan sarana untuk
menggapai surganya Allah?
Bagi kaum muslim, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai
kebahagiaan hidup. Pertama, Mencintai Allah dan Rosulnya di atas
segalanya. Yang ke dua, mencintai keluarga dan sesama mahluk lainnya karena
Allah, sesuai dengan akidah dan akhlak Islam bukan karena hawa nafsu
semata. Dan yang ketiga, takut kepada kekafiran sebagaimana takutnya
siksa api neraka di hari pembalasan nanti.
Jadi, kunci kebahagiaan yang dicari bisa diperoleh apabila sudah
dapat merasakan nikmatnya iman, nikmatnya iman di dapat bilamana
menempatkan Allah dan Rosulnya di atas segalanya.